Perempuan Bulan Ini: Mama Maya

“Normal atau Caesar?” Itu pertanyaan yang sering didengar seorang ibu yang baru melahirkan, bahkan sejak ia masih dirawat di kamar pemulihan. Pertanyaan yang dianggap biasa ini sering kali membebani orang yang ditanya.

Melahirkan adalah pengalaman yang unik untuk perempuan. Tidak ada laki-laki yang diberi “privilese” ini. Di balik sulit dan sakitnya, terselip kebanggaan yang sangat besar dalam perempuan yang pernah melahirkan. Tak heran, proses melahirkan sering dianggap “sempurna” hanya jika dilalui secara alami – tanpa bantuan pisau operasi.

Anggapan ini membuat banyak perempuan kecewa ketika mengetahui bahwa kondisi medis menghindarkan mereka dari proses melahirkan alami, dan mesti menjalani operasi Caesar. Bagi Maya Santoso, suara di balik blog Mama Maya, kekecewaan ini ia alami dan pendam sendiri selama bertahun-tahun.

“Kekecewaan ini pertama saya alami sesaat sebelum melahirkan anak pertama. Tetapi, kesibukan sebagai ibu baru membuat saya tidak punya cukup waktu untuk memaknainya,” kata Maya yang adalah seorang ahli pemasaran dan kini, ibu tiga anak.

Lebih dari delapan tahun setelah kelahiran anak pertamanya, Maya memutuskan untuk berbagi tentang caranya mengatasi kekecewaan pasca-melahirkan dengan pengikutnya di Instagram.

Screen shot 2017-05-11 at 3.30.05 PM

Apa yang mendorong Anda untuk berbagi tentang proses melahirkan di media sosial?

Pada dasarnya, saya tidak nyaman berbagi tentang pengalaman melahirkan, tanpa ada sebab yang jelas. Saya baru menemukan penyebabnya sehari sebelum saya melahirkan anak kedua. Saat itu, saya menangis di kamar mandi karena menyadari bahwa keesokan harinya, saya akan berada di ruang operasi, menjalani proses Caesar dan bukan melahirkan secara alami.

Kesedihan itu saya simpan sendiri, karena rasa-rasanya tidak akan ada orang yang mengerti saya. Saya ingat beberapa orang menghibur dengan kata-kata: “proses melahirkan itu tidak penting. Yang penting ibu dan bayi selamat.” Hiburan semacam itu tidak membuat saya merasa lebih baik, justru lebih buruk. Komentar seperti ini membuat saya merasa tidak bersyukur karena diberi kesempatan menjadi ibu.

Suatu hari, saya menemukan buku berjudul Silent Knife. Di dalamnya, ada banyak cerita dari perempuan lain yang menyimpan kekecewaan yang sama. Saat membaca, saya merasa mendapat kekuatan. Buku itu juga membantu saya memaknai perasaan dan pergumulan saya. Saya menyadari bahwa saya bukannya aneh, atau tidak bersyukur. Saya hanya kecewa.

Saya harap, dengan berbagi tentang pergumulan saya seputar proses melahirkan, saya bisa berkata pada perempuan lain yang mengalami kekecewaan yang sama: kamu tidak sendiri. Ada cara untuk memulihkan diri dari kekecewaan akibat tidak bisa melahirkan secara alami.

Seperti apa pengalaman berbagi tentang sesuatu yang sangat personal di ruang publik?

Saya perlu waktu cukup lama untuk menuliskan perjalanan emosional setelah melahirkan dengan apa adanya. Jujur, hingga saat ini saya masih menyimpan sebagian pergumulan saya sendiri, karena saya khawatir dihakimi oleh mereka yang berpandangan bahwa melahirkan secara alami lebih baik daripada melalui operasi Caesar.

Namun, saya yakin seiring dengan proses pemulihan emosional yang sedang saya jalani, saya dapat berbagi lebih banyak. Harapan saya, untuk berbagi dengan lebih jujur dan tanpa rasa khawatir.

Selain proses melahirkan, isu apa lagi yang menurut Anda perlu diperhatikan ibu-ibu lain?

Tipe pendidikan keluarga “konsumtif vs minimalis”. Saya mengamati bahwa media sosial membuat ibu merasa perlu membeli berbagai produk dan merek tertentu untuk anak mereka. Hanya dengan demikian, mereka merasa bisa membesarkan anak dengan layak.

Namun, pengalaman saya dengan ketiga anak saya membuat saya menyadari bahwa setiap ibu sudah memiliki apa yang anak-anak butuhkan. Mereka tidak perlu membelinya. Anak-anak perlu dipeluk, diberi makan, dididik dan diajari tentang iman. Untuk menyediakan semua itu, seorang ibu tidak perlu berbelanja.

Nilai-nilai apa yang ingin Anda berikan pada anak?

Bahwa diri mereka baik sebagaimana adanya. Di tengah masyarakat yang serba menuntut, saya ingin anak-anak saya mengetahui kualitas diri mereka sendiri. Keinginan tersebut muncul dari pengalaman saya tumbuh sebagai anak yang minder. Saya ingin anak-anak saya tumbuh dewasa dengan mempercayai bahwa mereka dapat mencapai apapun yang mereka cita-citakan.

Untuk mengenal Mama Maya lebih lanjut, kunjungi blog dan akun Instagramnya.

(keterangan: foto milik Maya Santoso)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s