4 Karakter Perempuan Menonjol dalam Film Indonesia Kontemporer

Dua tahun terakhir, film yang memakai nama perempuan sebagai judul memenangkan penghargaan Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI). Tahun 2015, Siti berjaya. Tahun 2016, giliran Athirah. Yang satu memotret kehidupan perempuan kelas bawah di Yogyakarta, satunya lagi kisah hidup ibu dari Jusuf Kalla di Sulawesi Selatan.

Di tengah kritik tentang tokoh perempuan yang klise di film-film Indonesia berbujet besar, karakter Hawa yang kuat dalam film-film produksi lokal pantas diapresiasi.

Di bawah ini, 4 tokoh dalam film Indonesia kontemporer yang berusaha menyajikan berbagai lapisan perasaan, pergumulan dan sifat perempuan, ketika ia sering disederhanakan (atau diabaikan) dalam banyak film lainnya.

Sipon dalam Istirahatlah Kata-Kata (2016)

c5edcc56-7b58-49fd-986d-2dee185c8c17_169

Fokus film ini memang penyair yang jadi buron di masa Orde Baru, Widji Thukul. Tetapi dalam versi layar lebarnya, karakter Sipon (diperankan Marissa Anita) istri Widji sangat kuat. Ia tegar saat ditinggal Widji yang mesti lari dari kejaran aparat. Ia menyambut dengan lapang dada waktu Widji pulang, meski hanya sebentar. Bahkan, ia mesti membela dirinya sendiri ketika dianggap perempuan bayaran oleh tetangga.

Siti dalam Siti (2014)

Film 6

Kelas menengah-bawah sering jadi subjek film festival, namun Siti menunjukkan dimensi lain dalam karakter perempuan yang dililit kesulitan ekonomi dan problem pernikahan. Siti (diperankan penari kontemporer Sekar Sari) adalah penjual rempeyek, seorang istri yang merawat suaminya yang sakit hingga cacat, juga ibu yang mesti mengurusi anak dan mertuanya. Namun, ternyata ia juga Siti yang kenes di karaoke dan naksir laki-laki “kota”.

Ci Surya dalam Selamat Pagi, Malam (2014)

artecoid

Apa yang akan dilakukan seorang istri dalam usia paruh baya yang menemukan suaminya selingkuh sebelum mati? Ci Surya (diperankan Dayu Wijanto) adalah seorang istri rumahan yang menghadapi dilema tersebut. Karena jawaban tidak bisa didapat dari sang suami, Ci Surya memilih mengalami sendiri sensasi selingkuh dengan pasangan yang lebih muda. Sekalian balas dendam. Pengalaman itu melibatkan uang, hubungan badan yang terpaksa, dan keluar dari zona nyamannya di rumah, lalu ke kelab malam murahan untuk bertatap muka dengan selingkuhan suaminya.

Srintil dalam Sang Penari (2011)

Film4

Dilema karier vs cinta itu klasik, tapi apa jadinya kalau dilema itu melibatkan kewajiban berbagi tubuh dengan orang sekampung? Itulah yang mesti Srintil (diperankan Prisia Nasution) lalui dalam usia remajanya. Ia mencintai Rasus, namun hati dan takdir menuntunnya untuk menjadi penari ronggeng. Profesi yang lazim di budaya Jawa ini berarti Srintil mesti rela tubuhnya menjadi objek milik kampung. Karakter Srintil juga membentuk pertanyaan lain: apakah penari ronggeng adalah wujud objektifikasi perempuan, atau malah sebaliknya?

(Istirahatlah Kata-Kata  diproduksi oleh KawanKawan Film, LimaEnam Films, Partisipasi Indonesia dan Yayasan Muara. Siti diproduksi oleh Fourcolours Films. Selamat Pagi, Malam diproduksi oleh Kepompong Gendut. Sang Penari diproduksi oleh Salto Films)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s